Senin, 10 Januari 2011

CERPEN : SEIKAT KEMBANG ILALANG

Simpang Pauh adalah daerah terpencil, puluhan kilometer dari Kabupaten dan ratusan kilometer dari Ibu Kota Provinsi. Satu-satunya akses ke desa itu adalah jalan tanah yang tidak layak disebut jalan, gerusan air menciptakan alur-alur berlubang yang amat berbahaya bagi pengendara.
Daerah ini terbilang rata dengan bebukitan yang tidak terlalu tinggi dan hutan berawa disebelah utara, kata orang hutan sarang jin. Sistem nomaden menyisakan puluhan ribu hektar padang ilalang, bila ada pohon tinggi biasanya adalah pohon pauh, sejenis pohon mangga yang kecil buahnya. Padang ilalang itu bisa setinggi dada, bila musim kemarau kadang terbakar hebat, ribuan hektar dilanun api, mengerikan.
        Secara keseluruhan padang ilalang mencerminkan kemiskinan dan identik dengan duka nestapa, hampir tidak ada cerita bahagia didalam semak belukar itu. Gubuk peladang nomad yang sudah kosong banyak terdapat disana, beratap ilalang dan dibuat ala kadarnya sekedar tempat berteduh. Digubuk itu tertumpah uraian keringat dan air mata, bila telah ditinggal gubuk itu makin kental dengan kesan penderitaan.
        Dua bulan lalu aku datang kesini membawa harapan akan kehidupan baru, mengajar di sebuah sekolah terpencil, enam lokal tiga guru, satu guru sakit-sakitan, satunya lagi amat tidak disiplin, praktis aku sendirian. Celakanya lagi sekolah itu jauh dari rumahku,Lain desa pula,  hampir empat kilo, melewati jalan yang amat licin pada musim hujan, membawa sepeda justru menambah sengsara karena tanah lengket di rodanya.
        Pagi ini cuaca amat dingin karena hujan semalaman, dengan menghela nafas aku memilih jalan kaki saja. berjalan kaki sendiri menyusuri jalan sempit, ini adalah jalan tercepat untuk sampai di sekolah, melalui jalan pintasyang diapit padang ilalang. Di perbatasan desa sebelah utara ada jembatan panjang membelah rawa-rawa, warga 2 membuat 'jerambah' itu khusus untuk para guru karena merasa iba melihat guru melintasi rawa tiap hari, lebarnya hanya 60 cm tapi panjangnya hampir seratus meter.
        Saat melintasi jerambah itu sesayup sampai aku mendengar seseorang bersenandung. itu lagunya Koes Plus "Kulihat pelangi....dipagi hari..."
hatiku merasa senang karena ada manusia lain dijalan sepi ini. Nampaknya senandung itu berasal dari gubuk kosong di ujung rawa-rawa. Benar saja disitu kudapati seorang perempuan sedang ham-hem tanpa melafalkan lagunya. Dia nampak asik mengumpulkan kembang ilalang dan mengikatnya seperti karangan bunga, di padu padan dengan bunga semak lain.
Perempuan itu mengenakan baju merah dan rok hitam, rambutnya panjang sepinggang, dari sisi samping aku dapat melihat betapa moleknya perempuan ini, gelang emas yang cukup besar ada ditangan kirinya.
Nampaknya perempuan ini tidak menyadari kehadiranku, namun begitu dia tidak terkejut saat aku menyapanya. Dari jarak lima meter aku bisa melihat dengan jelas kecantikannya, kulitnya kuning langsat. Hanya ada yang berbeda dengan wajahnya, tidak sama dengan orang cantik kebanyakan, walau demikian cantik wajah itu menerbitkan iba dan belas kasih.
Dia memang berhenti bersenandung tapi sama sekali tidak menjawab sapaanku. Aku jadi merasa tak enak hati dan memilih segera berlalu dari situ, lagian aku sudah kesiangan.
---------///////------------------
        Bulan-bulan berikutnya aku sudah bisa menikmati gerak hidup desa itu, disela waktu mengajar aku bercocok tanam, menabur padi dan menanam sayuran.
Pada awal Desember, hujan turun hampir setiap hari. Dan kami paa peladang memilih berteduh di gubuk. Biasanya tetangga ladang ikut berkumpul lima atau enam orang. Tidak ada kegiatan lain selain ngobrol kesana-kemari, menceritakan susah senangnya berladang.
Salah satu peladang menceritakan tentang anak gadisnya yang dulu diperkosa beramai-ramai dalam semak belukar. Sampai kini pemerkosanya tidak tertangkap. Gadis itu menanggung beban batin yang berat dan memilih tinggal di ladang, jauh dari desa, tidak mau pulang, tidak lagi mau bergaul. Berpindah dari padang satu kepadang lain mengikuti orang tuanya.
Orang tua malang itu amat mengerti hancur hati anak gadisnya tapi apa daya. Anak gadis semata wayang itu tidak mau lagi mengenal manusia. Diam seribu bahasa.
        Cerita pedih itu hilang dari percakapan, tapi kembali ramai saat orang tua gadis menyatakan bahwa anaknya hilang di ladang. Banyak dugaan tentang hilangnya gadis itu, bisa jadi di terkam binatang buas atau mati terbakar saat terjadi kebakaran padang ilalang yang hebat waktu itu. Sebagian lain lagi mengatakan kalau gadis itu masih hidup.
Orang tua malang itu pasrah, empat tahun anaknya hilang entah kemana rimbanya.
        Bahkan perjaka yang dulu menjadi calon suaminya menjadi depresi berat dan mulai kurang waras. Nama pemuda itu Iyan. Saat cerita pilu ini dituturkan sang ayah, Iyan memilih keluar dari gubuk karena nestapa itu tak ingin didengarnya lagi.
"Anak saya itu cantik dan baik hati, banyak pemuda desa merasa iri saat Iyan ditunangkan dengannya. Mungkin karena itulah ada beberapa orang yang tega menodainya" Sang ayah menutup cerita itu dengan titik air mata, "saya beharap dia ditemukan"
Didepan sekolah kami ada pohon akasia yang besar, cukup teduh memang, tapi sayangnya pohon itu dijadikan sarang semut krenggo atau angkrang. Hari itu aku berniat memangkas beberapa cabangnya. Sengaja dari rumah aku membawa golok dan berangkat mengenakan mante karena gerimis.Saat sampai di jembatan (jeramba) aku melihat seikat kembang ilalang tergeletak di tanah dan sebagian lagi berceceran di jerambah. Di pertengahan jembatan ceceran kembang ilalang itu nampak berbelok ke kiri, terapung di air rawa.Spontan aku teringat perempuan cantik yang beberapa waktu lalu aku jumpai sedang mengumpulkan kembang ilalang dan merangkainya.        Melihat dari ceceran kembang ilalang itu aku bisa memastkan bila perampuan itu berjalan menuju ke dalam hutan berawa yang banyak ditumbui pohon mahang dan pulai. Airnya setinggi betis. Insting ku merasakan ada yang tidak beres, Aku khawatir terjadi apa-apa pada perempuan itu.Dan dengan menggenggam hulu golok aku turun kerawa menyusuri ceceran bunga ilalang. Tengak-tengok tidak ada orang, padahal aku sudah masuk sekitar 40 meter. Ceceran kembang ilalang itu berhenti disini. Rasanya mustahil kalau perempuan itu masuk lebih dalam hutan berawa itu, karena rerumputan air disekitar itu tidak nampak tersibak habis dilalui seseorang. Rumput kerisan itu banyak mengiris tanganku.        Dari arah jembatan seseorang memanggil " Pak guru........Pak guru dimana.....????" Rupanya orang itu tahu kalau aku ada disekitar sini karena sepatu, tas kerja dan beberapa buku aku letakkan di jembatan. Tapi aku tak bisa melihat siapa orang itu karena tertutup semak belukar.Saya segera berbalik karena tidak menjumpai siapapun disitu, nampaknya kekhawatiran saya tidak beralasan. Saat berbalik itulah aku melihat sesuatu di dasar air, Air rawa yang jernih itu menampakkan semua isi dasarnya. Aku memungut benda itu dengan berdebar-debar lalu memanggil orang di jembatan untuk mendekat.
Dari suara kerosak dan kecipak air yang dilaluinya saya bisa orang ini jelas berlari ke arahku. Ternyata Iyan, dia nampak kaget bukan alang kepalang melihat benda yang baru kuambil dari dasar rawa."Bapak sedang apa disini....?????" Mendengar pertanyaan penuh selidik itu aku menjadi lebih waspada. Golok yang tadi masih di dalam sarungnya, kini ku hunus dengan gerakan yang tidak terlalu mencurigakan. Aku yakin ada yang disembunyikan Iyan. Aku merasa tegang dan berdebar kencang melihat sikap Iyan yang menenteng parang panjang dengan gelisah dan matanya menyiratkan tidak senang dengan kehadiranku disitu.        Walau tetap waspada aku tidak melihat langsung ke mata Iyan, karena pemuda stres ini bisa saja melakukan hal konyol karena sebab yang tidak kuketahui. Aku cukup pandai menakar orang.
Malam itu dibantu penerangan lampu strongkeng (petromak), warga desa menyisir rawa sejak siang tadi. Dua orang polisi dari kabupaten datang memberi pengarahan. Temuanku tadi pagi menggemparkan desa. Sebuah tengkorak manusia......Dari dasar rawa itu ditemukan bagian lain dari kerangkan tubuh, perhiasan emas dan dua potong baju yang terbalut lumpur.Belum diketahui secara pasti siapa dan mengapa orang ini bisa mati dirawa ini.Kulihat Iyan dari tadi hanya duduk di jembatan, tidak beringsut sejak siang, diam.....---------///////--------------------       Saat tetangga kami punya hajat sunatan, aku datang bantu-bantu di situ. Percakapan tentang tentang penemuan kerangka manusia kemarin masih hangat dibicarakan, kini kerangka itu ada di puskesmas menungggu hasil pemeriksaan polisi.Sedang duduk minum kopi dan asik ngobrol aku mendengar sebuah lagu dari tape recorder, ada yang menggelitik rasa penasaranku.Dengan mengajak dua orang kenalan aku mencari darimana suara tape recorder itu terdengar. Dijalur gang ini hanya ada enam rumah yang terisi, lainya kosong karena penghuninya kabur tidak kerasan, desa transmigrasi ini nyaris mati, gelap tanpa listrik dan hiburan disana hanya radio tape recorder.        Seorang teman mengetuk pintu dan memanggil pemilik rumah, ternyata orang tua malang itu tinggal disini. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengannya dan mendengar cerita tentang anak gadisnya."Mari masuk pak guru...... ketemu lagi disini" Kami ngobrol akrab dengan hidangan ala kadarnya."Ngomong-ngomong ada perlu atau hanya mampir ini, pak guru..?"Saya ragu mau menjawab dan menyampaikan niatku. Mataku hanya terpaku pada tape recorder yang masih memutar koleksi lagu itu. Setrum aki yang lemah menyebabkan suara lagu itu terdengar agak ganjil. "Dulu anak kami senang mendengar lagunya Koes Plus. Dia kadang memutar lagu itu berulang-ulang, berjam-jam" Ibu malang itu menuturkan, seakan tahu rasa penasaranku.Dengan memberanikan diri aku bertanya langsung pada suami istri itu " Apakah anak gadis bapak senang mengumpulkan kembang ilalang dan merangkainya dengan bunga semak lain?"Mereka nampak terkejut dan bapak malang itu mematikan tape recorder, segera saja suasana senyap menyergap. Semua mata tertuju kearah saya dengan tanda tanya. Kulihat istrinya mengangguk lemah..........
Bagaimana pak guru isa tahu? Apakah pak gur bertemu dengan anak kami? Dimana?????"Aku bingung memberi jawaban, karena ini bukanlah hal yang mudah untuk dijelaskan. Bapak itu ditenangkan oleh istrinya."Saya tidak Yakin pak....... Tapi apakah bapak punya fotonya, mungkin saya bisa mengenalinya." Kataku.Setengah berlari orang tua itu mengambil sebuah foto dalam figura besar. Aku terduduk lemas saat melihat foto itu, bulu kudukku meremang. Betul sekali....wajah itu pernah kulihat. Wajah yang cantik tapi menerbitkan iba dan belas kasihan. "Kini saya yakin bahwa anak gadis bapak sudah saya temukan. Sayalah yang menemukannya"        Malam itu juga kami berangkat ke puskesmas bersama beberapa orang. Ke dua orang tua itu terisak-isak sepanjang jalan. Dan keyakinan saya terbukti, setelah melihat dengan jelas pakaian dan perhiasan yang ditemukan. Baju merah, rok hitam dan gelang emas berliontin 'love', tanda pertunangan dari Iyan untuk kekasihnya. Semua dipastikan oleh orang tua malang itu. Kerangka yang pagi tad ku temukan adalah anak gadisnya.Prosesi pemakaman berjalan haru esok paginya.        Esok paginya Iyan ditangkap polisi dengan tuduhan pembunuhan, gadis yang trauma pada lelaki itu menolak menikah dengan Iyan dan memilih menyendiri di ladang. Lelah sudah Iyan membujuknya, akhirnya Iyan mengayunkan kayu sebesar betis kekepalanya. "Saya tahu calon mempelai saya itu amat menderita, saya sudah akhiri penderitaannya..."--------------//////--------------------        Beberapa minggu berlalu, siang itu aku beranjak dari kursi kelas dan berniat pulang. Langit tampak mendung gelap. Murid kupulangkan lebih awal sebelum hujan semakin deras. Kuambil sepedaku yang terparkir di samping kantor. Didalam keranjangnya ada seikat kembang ilalang yang dirangkai indah dengan bunga semak lain. Tampaknya ini ucapan terimakasih.Aku mengayuh sepeda dengan tergesa dan tunggang-langgang saat melintasi gubuk kosong itu. Sampai dirumah orang tua Gadis sudah menungguku "Ada yang ingin saya tanyakan pada pak guru... Bagaimana pak guru bisa yakin kalau kerangka itu adalah anak saya???"Aku tidak menjawab pertanyaan itu, tapi hanya menyerahkan rangkaian bunga ilalang yang tadi kubawa. Dua orang tua itu pergi membawa tangisnya, rangkaian bunga itu seperti pengobat rindu. Nampaknya mereka berdua sepakat untuk menyerahkan hidupnya pada ilalang. Dari satu padang ke padang lain. Anginya dingin meniup. Ke dua orang itu tak pernah terdengar lagi. (tamat)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar